Selain Maido, Apa yang Sudah Kita Berikan Untuk Desa Kita ?

Media Informasi Warga

Selain Maido, Apa yang Sudah Kita Berikan Untuk Desa Kita ?

23 Desember 2016 Berita 2

Sebagai anak indonesia yang mencintai budaya, termasuk bahasa daerah, tentu kita tidaklah asing dengan sebuah kata yang saya masukkan dalam judul dalam artikel ini, yaitu “Maido”. Apalagi jika kalian sering menggunakan bahasa jawa untuk percakapan sehari-hari, seperti orang-orang yang tinggal di Jawa.

“maido” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia : “Berasal dari bahasa Jawa Verba (kata kerja) mencela karena tidak percaya (perbuatan atau hasil pekerjaan orang lain): bukan watak kita untuk terus cengeng dan terus maido saja.” Jadi, tidaklah heran, kalau kata “maido” ini sering digunakan oleh orang-orang yang benci terhadap sesuatu, berwatak sombong, sering iri, dan orang-orang yang memiliki sifat tercela lainnya.

maidoSaya tertarik menulis artikel ini karena kegundahan saya selama ini, dalam kehidupan bermasyarakat dijaman sekarang, khususnya dalam keseharian kita. Tahun 2016 era jaman semakin maju dan berkembang pesat. Kebebasan berpendapat tidak lagi memiliki batas, semua bebas menyampaikan pendapat. Desa menjadi salah satu bagian yang sangat terasa dampaknya di era kebebasan sekarang. Pemerintah begitu serius dalam pembangunan desa. Sejak disahkannya UU tentang Desa yang melahirkan program dana desa. Semakin besarnya dana pusat yang diturunkan ke Desa, masyarakat dituntut untuk berperan aktif dalam pelaksanaan pembangunan serta pengawasan penyelenggaraan program desa.

seiring dengan tuntutan jaman, kebebasan menjadikan masyarakat semakin cerdas, namun tidak bisa di pungkiri dengan kebebasan berpendapat seperti sekarang ini, kadang kita lupa akan bagaimana etika dalam berpendapat, seolah-olah kita bebas tanpa batas, baik dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat. Kita bisa melihat, mendengar dan merasakan hiruk pikuknya dunia, pengamat semakin banyak, dapat dikatakan yang diamati lebih sedikit dari pada yang mengamati, Mulai dari soal pemrintahan, pembangunan, bahkan mulai menjurus ke arah yanglebih sensitif dari mulai tingkat pusat sampai daerah bahkan sampai pada tingkatan terendah dalam struktur pemerintahan, yaitu Desa.

Perbedaan pendapat dan berfikir, kritikan, bahkan kadang sampai pada celaan yang berujung pada penghilangan hak jawab seseorang, hal-hal tersebut semakin banyak muncul dipermukaan bahkan bisa dikatakan kebebasan sekarang cenderung ke arah yang negatif. Kehidupan dan pembangunan akan berjalan baik, apabila ada keseimbangan antara pelaku pembangunan dan pengawas kebijakan diantaranya adalah lembaga, masyarakat dan unsur lainnya.

Desa dengan ciri khas gotong royongnya, Desa dengan ciri khas ewuh pakewuhnya, kini mulai berubah seiring berkembangannya jaman. Masyarakat di Desa semakin kritis dalam segala hal, ini dibuktikan dengan penggunaan bahasa intelektual dalam berkehidupan dan bermasyarakat. Kritikan, saran, nasehat sampai pada celaan semua bebas dilakukan. Paido dan Maido tidak lagi ada keseimbangan, kebebasan berpendapat dan berfikir, tentu janganlah sampai hanya terhenti dengan “ Maido”, namun harus diiringi dengan solusi dan kerja sama dalam mencari sebuah penyelesaian, sehingga kebebasan berpendapat tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam proses memajukan pembangunan bukan malah semakin memundurkan pembangunan.

Sebagai penutup artikel ini, semoga kita bisa lebih bijak dalam mewujudkan kebebasan berfikir dan berpendapat, sehingga kita tidak termasuk ahli maido. Sebuah pertanyaan yang mudah-mudahan bisa menggugah nurani kita untuk semakin bijak  : Selain maido, apa yang sudah kita berikan untuk tanah kelahiran kita ?

Mari kita renungkan bersama !

2 Responses

  1. Cahyono Kuta berkata:

    setuju pak !
    artikelnya keren
    mantap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *