Usia Boleh Tua Tetapi Semangat Tetap Muda

Partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama.

Pentingnya partisipasi antara lain : pertama, partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat setempat,  yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal; kedua, bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut; ketiga, bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri.

Apa yang ingin dicapai dengan adanya partisipasi adalah meningkatnya kemampuan (pemberdayaan) setiap orang yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam sebuah program pembangunan dengan cara melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan dan kegiatan-kegiatan selanjutnya dan untuk jangka yang lebih panjang.

Usia boleh tua namun semangat tetaplah muda, Usia bukanlah menjadi penghalang untuk bersama membangun desa, itulah ungkapan yang cocok diungkapkan untuk sosok Inspiratif “ Mbah kaper”. Mbah Kaper Warga RW. 02 diusianya yang hampir 60 tahun, namun semangatnya sungguh luar biasa, mbah Kaper sosok yang bisa menjadi tauladan para kaum muda. Dengan semangat yang luar biasa, beliau berjibaku dengan keringat bersama dengan warga yang lainnya, kerja bakti membangun drainase, dengan kulit rentanya satu persatu ember pasir beliau angkut, sesekali dengan senyum khasnya beliau bercanda dengan tukang batu yang bekerja, satu jawaban yang membuat haru, ketika beliau ditanya salah seorang pekerja lainnya “ Mbah, nopo mboten kesel, istirahat mawon ? pertanyaan dengan bahasa jawa tersebut beliau jawab dengan senyum sambil berkata, “ Kulo riyin mboten nderek perang mas, kapan malih kulo nderek berjuang, nek mboten saniki, umur kulo mpun enggal wangsul” Jawaban sederhana namun syarat makna, itulah sosok Mbah Kaper, diusia senjanya tetap ingin berjuang, akankah kita yang masih muda hanya akan diam berpangku tangan, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi ?(admin#pegiringan.desakupemalang.id)

Author: AdminDesa
Pegiringan adalah desa di kecamatan Bantarbolang, Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia. Pegiringan salah satu desa di kecamatan Bantarbolang yang mempunyai bahasa yang khas di banding daerah lain di Pemalang, yaitu pengucapan vokal akhir (a) dibaca dengan (e) seperti pada kata belah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *